STRATEGI MEMAKSIMALKAN LABA PERUSAHAAN
MAKALAH
STRATEGI MEMAKSIMALKAN LABA
PERUSAHAAN
NAMA : IQBAL RIZKY FIRMANSYA
NIM : 2015020188
UNIVERSITAS ISLAM BATIK SURAKARTA
FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
2017/2018
STRATEGI MEMAKSIMALKAN LABA PERUSAHAAN
MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dikerjakannya makalah ini adalah memberikan pemahaman pembaca mengenai
cara memaksimalkan laba dengan lebih tepat dan efisien. Laba yang dihasilkan tidak
terlepas dari beberapa factor antara lain jumlah hasil produksinya, modal, dan total upah
tenaga kerja.
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara meminimumkan
biaya dan meningkatkan efisiensi dalam pengaturan segala fasilitas produksi dan area kerja,
sehingga proses produksi dapat berjalan lancar.
Efisiensi ini dapat dicapai dengan menekan biaya produksi dan transportasi didalam pabrik.
Efisiensi di bidang keuangan memberikan pengaruh pada operasi perusahaan, sehingga
akan meningkatkan efisiensi operasional dan efisiensi investasi yang pada akhirnya akan
dapat meningkatkan laba perusahaan. Dengan menghasilkan laba, perusahaan dapat
mempertahankan p
ertumbuhanertumbuhan perusahaannya sehingga dapat bersaing dengan perusahaan lain
kerena laba tersebut dapat ditanam kembali dan digunakan untuk mempertahankan atau
meningkatkan pertumbuhannya.
Untuk meningkatkan laba, perusahaan umumnya meningkatkan pendapatan dan
mengurangai biaya, antara lain biaya produksi. Dengan mengurangi biaya, perusahaan
adapat memaksimalkan dana untuk tujuan lain seperti membuat produk baru, atau
menginvestasikannya untuk menambah aset perusahaan.
DimasaDimasaiDimasaDimasai,perusahaan memiliki masing-masing peluang untuk
memasarkan produknya , Perusahaan merupakan salah satu sarana yang dapat menunjang
program pemerintah di berbagai sektor perekonomian. Seiring dengan perkembangan dunia
usaha yang semakin pesat ini akan membawa dampak persaingan perdagangan yang ketat,
terutama pada perusahaan sejenis. Dengan demikian perusahaan dituntut bekerja lebih
efisien supaya dapat tetap bertahan dalam bidangnya masing-masing.
(Agus Suseno,2009).Perusahaan harus selalu dapat menghasilkan laba untuk dapat tetap
bersaing dan menguasai pasar. Untuk itu , setiap perusahaan atau pengusaha dituntut untuk
melakukan strategi-strategi pemasaran yang tepat agar tidak kalah bersaing dengan
perusahaan lainnya. Karena setiap perusahaan memiliki tujuan untuk memaksimalkan
keuntungan yang lebih besar.
“Strategi” adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan
gagasan, perencanaan dan eksekusi sebuah aktifitas dalam kurung waktu tertentu. Dalam
bisnis strategi biasanya ditujukan guna bagaimana cara bersaingnya.Tekanan persaingan ini
mencakup ancaman pedatang baru, daya tawar menawar pemasok, daya tawar pembeli,
daya tawar produk pengganti dan persaingan antar pesaing.
Dilihat dari segi globalisasi persaingan lebih tajam karena untuk masuk ke dalam pasar
global, banyak faktor-faktor yang harus ditingkatkan dan diperbaiki. Faktor-faktor tersebut
adalah kualitas, ketepatan waktu, dan tentu saja modal. Persaingan global yang dihadapi
perusahaan tersebut memaksa para manajemen perusahaan untuk mengambil keputusan
yang berkualitas berdasarkan fakta-fakta. Tujuan perusahaan walaupun yang satu dengan
yang lainnya belum tentu sama, tetapi pada umumnya tujuan perusahaan terutama adalah
memperoleh laba yang sebesar- besarnya untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan.
Pengertian memaksimalkan laba
“Laba” atau profit dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan
seseorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang
berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk didalamnya, biaya
kesempatan). Keuntungan total merupakan penerimaan total (TR) dikurangi dengan biaya
total (TC), Keuntungan total akan mencapai maksimum apabila selisih positif antara TR
dengan TC mencapai angka terbesar. Secara sistematis laba dapat dirumuskan π=TR-TC,
perusahaan dapat dikatakan memperoleh keuntungan apabila selisihnya bernilai positif
(π>0) dimana TR harus lebih besar dari pada TC (TR-TC) .
Tanpa diperoleh laba, perusahaan tidak dapat memenuhi tujuan lainnya yaitu pertumbuhan
yang terus-menerus ( going concern) dan tanggung jawab sosial (corporate social
responsibility ). Untuk menjamin agar perusahaan mampu menghasilkan laba, maka
manajemen perusahaan harus merencanakan dan mengendalikan 2 faktor penentu laba
yaitu (1) pendapatan (2) biaya. ( Ellys Delfrina Sipangkar,2008)
Sementara itu laba dalam akuntansi sendiri, didefinisikan sebagai selisih antara harga
penjualan dengan biaya produksi. Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian
pemakai karena angka laba diharapkan cukup kaya untuk mempresentasi kinerja
perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi teori akuntansi sampai saat ini belum mencapai
kemantapan dalam pemaknaan dan pengukuran laba. Laba merupakan selisih antara
penerimaan total dan biaya total. Penerimaan total= jumlah yang diterima dari penjualan
produk ( q x P ).
Untuk memaksimalkan laba yang diperoleh setiap perusahaan bisa dicapai melalui
bermacam-macam cara antara lain ialah melalui efisiensi di semua bidang, seperti produksi,
sumber daya manusia, maupun keuangan. Dalam teori ekonomi mikro, tujuan perusahaan
adalah mencari keuntungan secara teoritis laba adalah kompensasi atau resiko yang di
tanggung oleh perusahaan, semakin besar resiko semakin pula laba yang di peroleh.
Untuk bagian laba terdapat dua jenis laba yaitu laba bisnis ( pendapatan penjualan -biaya
exsfilisit dalam menjalankan bisnis), dan laba ekonomi (laba bisnis – biaya modal yang
implisit dan masukan lain yang disediakan pemilik dan pergunakan perusahaan). Eksplisit
cost merupakan biaya yang pengeluarannya ada bukti jelas contoh gaji, listrik,bbm, dan lain-
lain sedangkan implisit cost merupakn biaya yang tak terlihat jelas tetapi tetap harus
diakomodir sebagai biaya.
Laba bisnis (Jj) = Total revenue (TR) – total cost eksplisit (TC eks)
Laba ekonomi = Total revenue ( TR) - Total cost eksplisit ( TCeks) – Total cost implisit (TCimp)
Contoh kasus :
Seorang wanita mengolah tempat makan dan digaji $25.000 setahun memutuskan untuk
membuka rumah makan sendiri ketahui penerimaannya selama setahun pertama operasi
adalah $120.000 sedangkan pengeluarannya meliput : gaji 5 orang karyawan $45000,
bahan-bahan makanan $15.000, sewa $10.000, utilities $1.000, bunga pinjaman bank
$10.000 jadi laba bisnis yang diperoleh adalah $120.000 - $81.000= $39.000 dan laba
ekonomi yang diperoleh $120.000 - $81.000 - $ 25.000=$14.000 sehingga untuk laba bisnis
dan laba ekonomi agar dicapai lebih maksimal maka dia harus mengendalikan biaya
pengeluaran menjadi lebih kecil dan juga biaya gaji karyawan menjadi lebih sedikit dengan
harapan laba yang akan diperoleh menjadi lebih besar Efisiensi dalam biaya produksi
menjadi patokan untuk dapat memaksimalkan laba yang ingin diperoleh.
Biaya produksi merupakan yang paling utama untuk dipikirkan serta diperhitungkan.
Kesalahan perhitungan mampu berakibat fatal bagi kemajuan serta perkembangan
perusahaan. Besarnya harga produksi ini akan membuat sebuah perusahaan bisa mengalami
kebangkrutan akibat ketidakmampuan perusahaan dalam melakukan manajemen
keuangannya.Biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan
baku menjadi barang jadi untuk dijual. Dimana biaya produksi ini terdiri dari biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.Terkadang banyak
perusahaan mengurangi mutu kualitas dari produk yang diproduksi hanya untuk
mendapatkan biaya produksi yang rendah, namun hal tesebut bukan cara yang tepat untuk
membuat biaya produki menjadi lebih rendah, tetapi perusahaan perlu melakukan efisiensi
biaya untuk dapat menekan biaya produksi.
Penetapan biaya produksi yang efisien diartikan sebagai biaya produksi dengan kualitas
yang unggul dengan mengurangi biaya yang banyak mengurangi anggaran dalam
perusahaan.Beberapa anggaran yang biasanya dikurangi untuk efisiensi biaya produksi ini
seperti anggaran pegawai (gaji pegawai per bulannya),biaya listrik, biaya air jika perusahaan
menggunakan sumber air bersih dari PDAM, serta biaya peralatan dalam produksi atau
mesin.Berbagai biaya inilah yang terkadang menyebabkan pembengkakan dalam biaya
produksi. Tentu perusahaan harus tepat dalam menetapkan harga yang harus dikeluarkan
untuk biaya produksi tersebut.
Efisiensi biaya produksi tidak dilakukan dengan mengurangi biaya bahan pembuatan
produknya melainkan mengurangi biaya produksi dari biaya tetap perusahaan per
bulannya.iEfisiensi biaya produksi adalah hubungan perbandingan antara anggaran biaya
produksi (input) dengan realisasi biaya produksi (output ). (Syahu Sugian, 2006:76). Untuk
menilai efisiensi biaya produksi, secara langsung akan meliputi tiga komponen biaya
produksi, yaitu efisiensi biaya bahan baku, efisiensi biaya tenaga kerja langsung, dan
efisiensi biaya overhead pabrik.Untuk mengetahui efisien atau tidaknya biaya produksi
dilakukan dengan cara menghitung selisih antara anggaran dengan realisasinya.Efisiensi
merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk mencapai
laba yang optimal. Konsep efisiensi berkaitan dengan seberapa jauh suatu proses
mengkonsumsi masukan dibandingkan dengan standar atau sesuatu yang bisa dijadikan
pembanding.
Cara efisiensi biaya produksi ini dapat dilakukan melalui metode berikut ini yaitu :
1. Hitunglah harga total minimal bahan yang dibutuhkan untuk melakukan produksi
Bahan produksi merupakan salah satu indikator yang utama untuk bisa melakukan produksi
barang atau jasa yangingin diusahakan oleh perusahaan. Sebelum melakukan penentuan
biaya jual produk atau jasa tersebut anda harus menghitung biaya bahan produksi total
seminimal mungkin.
2. Penerapan Just In Time Just In Time adalah usaha untuk mengurangi waktu penyimpanan
(stourage time) yang merupakan suatu akibat dari aktivitas bukan penambah nilai bagi
konsumen (nonvalue added activities) (mulyadi, 1993:25-26). Dimana penerapan Just In
Time dapat menghemat biaya penyimpan sehingga dapat membuat biaya lebih efisien.
3. Rancangkan biaya perawatan mesin serta biaya karyawan seminimal mungkin
Inilah yang harus diperhitungkan saat menentukan biaya produksi. Jumlahkan semua biaya
perawatan mesin serta gaji karyawan yang dibutuhkan seminimal mungkin. Hal ini
diupayakan untuk menghitung standar biaya produksi.
Efisiensi biaya produksi merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan oleh
perusahaan untuk mencapai laba yang optimal. Perusahaan harus tepat dalam menetapkan
harga yang harus dikeluarkan untuk biaya produksi supaya efisiensi biaya produksi dapat
secara konsisten dapat diterapkan perusahaan.
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk
mengolah produk. Biaya tanaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan
tenaga kerja manusia tersebut.
Penggolongan kegiatan dan biaya tenaga kerja
A.Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi kedalam 3 fungsi pokok
produksi,pemasaran,dan administrasi. Contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap
golongan tersebut.
-Biaya tenaga kerja produksi : gaji karyawan,biaya kesejahteraan karyawan pabrik,upah
lembur karyawan pabrik,upah mandor pabrik,gaji manajer pabrik.
-Biaya tenaga kerja pemasaran : upah karyawan pemasaran,biaya kesejahteraan karyawan
pemasaran,biaya komisi pramuniaga,gaji manajer pemasaran.
-Biaya tenaga kerja administrasi dan umum : gaji karyawan bagian akuntansi, bagian
personalia , bagian secretariat, biaya kesejahteraan karyawan bagian akuntansi, biaya
kesejahteraan karyawan bagian personalia, biaya kesejahteraan karyawan bagian
secretariat.
B. Penggolongan menurut kegiatan departemen - departemen dalam perusahaan
Biaya tenaga kerja digolongkan sesuai dengan bagian - bagian yang dibentuk dalam
perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja didepartemen - departemen non produksi
diglolongkan pula menurut departemen tempat kerja mereka. Penggolongan semacam ini
dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi
dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan. Misalnya : departemen produksi
suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen yaitu bagian pulp, bagian kertas dan
bagian penyempurnaan. Bagian nonproduksi : tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga
kerja bagian personalia, dll.
C. Penggolongan menurut jenis pekerjaan
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut jenis sifat pekerjaannya
. Biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah
standar kerja. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolongkan menjadi : upah mandor,
upah penyelia, upah operator.
D. Penggolongan menurut hubungan dengan produk
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan
tenaga kerja tidak langsung.
Untuk mencapai target kinerja keuangan diatas beberapa strategi yang bisa ditempuh
antara lain:
1. Melakukan penyusunan dan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran atau Budgeting
perusahaan.
2. Penerapan standar operating prosedur keuangan dan operasional, melalui pengawasan
dan penerapan manajemen perusahaan yang handal.
3. Efisiensi penggunaan modal kerja dengan melakukan seluruh kegiatan transaksi penjualan
dengan cara tunai.
4. Manajemen persediaan bahan baku produksi yang efektif
5. Metode pembayaran ke supplier dengan menggunakan sistem kredit (account payable ),
dan diupayakan dana pembayarannya bersumber dari hasil penjualan.
6. Pengelolaan manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam perusahaan yang efisien.
7. Secara berkala dalam satu periode melakukan analisis laporan keuangan perusahaan,
sebagai alat barometer terhadap pencapaian nilai rasio efisiensi kinerja laporan keuangan
perusahaan.
Semakin tinggi perputaran modal kerja yang diinvestasikan dalam perusahaan maka akan
semakin baik kinerja keuangan dan membutuhkan modal yang minim untuk mencapai
target prosentase laba yang besar
Memaksimumkan laba menjadi prioritas penting dalam menjalankan suatu perusahaan.
Terdapat tiga pendekatan perhitungan laba maksimum yaitu :
- Pendekatan Totalitas (totality approach)
Pendekatan totalitas membandingkan pendapatan total (TR) dan biaya total (TC). Jika harga
jual per unit output (P) dan jumlah unit output yang terjual (Q), maka TR = P.Q. Biaya total
adalah jumlah biaya tetap (FC) ditambah biaya variable per unit(v) dikali biaya variable per
unit, sehingga:
π = P.Q – (FC + v.Q)
Implikasi dari pendekatan totalitas adalah perusahaan menempuh strategi penjualan
maksimum (maximum selling). Sebab semakin besar penjualan makin besar laba yang
diperoleh. Hanya saja sebelum mengambil keputusan, perusahaan harus menghitung
berapa unit output yang harus diproduksi untuk mencapai titik impas. Kemudian besarnya
output tadi dibandingkan dengan potensi permintaan efektif.
- Pendekatan Rata-rata (average approach)
Dalam pendekatan ini perhitungan laba per unit dilakukan dengan membandingkan antara
biaya produksi rata-rata (AC) dengan harga jual output (P) kemudian laba total dihitung dari
laba per unit dikali dengan jumlah output yang terjual.
π = (P - AC).Q
Dari persamaan ini, perusahaan akan mencapai laba bila harga jual per unit output (P) lebih
tinggi dari biaya rata-rata (AC). Perusahaan akan mencapai angka impas bila P sama dengan
AC.
Keputusan untuk memproduksi atau tidak didasarkan perbandingan besarnya P dengan AC.
Bila P lebih kecil atau sama dengan AC, perusahaan tidak mau memproduksi. Implikasi
pendekatan rata-rata adalah perusahaan atau unit usaha harus menjual sebanyak-
banyaknya (maximum selling) agar laba (π) makin besar.
- Pendekatan Marginal (marginal approach)
Perhitungan laba dilakukan dengan membandingkan biaya marginal (MC) dan pendapatan
marginal (MR). Laba maksimum akan tercapai pada saat MR = MC.
π = TR – TC
Laba maksimum tercapai bila turunan pertama fungsi π(δ π /δQ) sama dengan nol dan
nilainya sama dengan nilai turunan pertama TR (δTR/ δQ atau MR) dikurangi nilai turunan
pertama TC (δTC/ δQ atau MC). Sehingga MR – MC = 0. Dengan demikian, perusahaan akan
memperoleh laba maksimum (atau kerugian minimum) bila ia berproduksi pada tingkat
output di mana MR = MC.
Biaya produksi dapat meliputi unsur – unsur sebagai berikut :
1. bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi
2. bahan-bahan pembantu atau penolong
3. upah tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur.
4. penyusutan peralatan produksi
5. uang modal, sewa
6. biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik,
biaya keamanan dan asuransi
7. biaya pemasaran seperti biaya iklan
8. pajak
Jenis-jenis Biaya Produksi
Biaya produksi membentuk harga pokok produksi yang digunakan untuk menghitung harga
pokok produk jadi dan harga pokok produk pada akhir periode akuntansi masih dalam
proses. Biaya produksi digolongkan dalam tiga jenis yang juga merupakan elemen-elemen
utama dari biaya produksi, meliputi :
1. Biaya bahan baku (direct material Cost)
Merupakan bahan secara langsung digunakan dalam produksi untuk mewujudkan suatu
macam produk jadi yang siap untuk dipasarkan.
2. Biaya tenaga kerja langsung (direct labour cost)
Merupakan biaya-biaya bagi para tenaga kerja langsung ditempatkan dan didayagunakan
dalam menangani kegiatan-kegiatan proses produk jadi secara langsung diterjunkan dalam
kegiatan produksi menangani segala peralatan produksi dan usaha itu dapat terwujud.
3. Biaya overhead pabrik (factory overhead cost)
Umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung dan biaya
pabrik lainnya yang tidak secara mudah didefinisikan atau dibebankan pada suatu
pekerjaan.
Elemen-elemen dari biaya Overhead Pabrik yaitu :
1. Biaya bahan penolong
2. Biaya tenaga kerja tidak langsung
3. Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap
4. Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin
5. Biaya listrik dan air pabrik
6. Biaya asuransi pabrik
7. Operasi lain-lain
Proses Produksi
Pengumpulan harga produksi sangat ditentukan berdasarkan proses produksinya. Proses
produksi dibagi menjadi 2 macam:
1. Produksi atas dasar pesanan
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan melaksanakan pengolahan produknya
atas dasar pesanan yang diterima dari pihak luar. Perusahaan ini mengumpulkan biaya
produksi dengan menggunakan harga pokok pesanan (Job order cost methode)
2. Produksi masa
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan produksi massa melaksanakan pengolahan
produknya untuk memenuhi persediaan di gudang yang umumnya produknya berupa
standar.
Perusahaan ini mengumpulkan biaya produksinya dengan menggunakan metode harga
pokok proses (Process cost methode). Dalam metode, biaya-biaya produksi dikumpulkan
untuk periode tertentu dan harga pokok produk persatuan produk yang dihasilkan dalam
periode tersebut, dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dengan jumlah satuan
produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.
Sejak awal akan dirancangnya perusahaan, sebaiknya dilakukan pula perencanaan tenaga
kerjanya. Baik itu tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja tidak langsungnya. Hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadinya kesia-siaan tenaga kerja, sehingga jumlah tenaga kerja
yang pada perusahaan dapat dikatakan optimum, dan pada akhirnya akan menurunkan
biaya tenaga kerja perusahaan tersebut.STRATEGI MEMAKSIMALKAN LABA PERUSAHAAN
MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dikerjakannya makalah ini adalah memberikan pemahaman pembaca mengenai
cara memaksimalkan laba dengan lebih tepat dan efisien. Laba yang dihasilkan tidak
terlepas dari beberapa factor antara lain jumlah hasil produksinya, modal, dan total upah
tenaga kerja.
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara meminimumkan
biaya dan meningkatkan efisiensi dalam pengaturan segala fasilitas produksi dan area kerja,
sehingga proses produksi dapat berjalan lancar.
Efisiensi ini dapat dicapai dengan menekan biaya produksi dan transportasi didalam pabrik.
Efisiensi di bidang keuangan memberikan pengaruh pada operasi perusahaan, sehingga
akan meningkatkan efisiensi operasional dan efisiensi investasi yang pada akhirnya akan
dapat meningkatkan laba perusahaan. Dengan menghasilkan laba, perusahaan dapat
mempertahankan p
ertumbuhanertumbuhan perusahaannya sehingga dapat bersaing dengan perusahaan lain
kerena laba tersebut dapat ditanam kembali dan digunakan untuk mempertahankan atau
meningkatkan pertumbuhannya.
Untuk meningkatkan laba, perusahaan umumnya meningkatkan pendapatan dan
mengurangai biaya, antara lain biaya produksi. Dengan mengurangi biaya, perusahaan
adapat memaksimalkan dana untuk tujuan lain seperti membuat produk baru, atau
menginvestasikannya untuk menambah aset perusahaan.
DimasaDimasaiDimasaDimasai,perusahaan memiliki masing-masing peluang untuk
memasarkan produknya , Perusahaan merupakan salah satu sarana yang dapat menunjang
program pemerintah di berbagai sektor perekonomian. Seiring dengan perkembangan dunia
usaha yang semakin pesat ini akan membawa dampak persaingan perdagangan yang ketat,
terutama pada perusahaan sejenis. Dengan demikian perusahaan dituntut bekerja lebih
efisien supaya dapat tetap bertahan dalam bidangnya masing-masing.
(Agus Suseno,2009).Perusahaan harus selalu dapat menghasilkan laba untuk dapat tetap
bersaing dan menguasai pasar. Untuk itu , setiap perusahaan atau pengusaha dituntut untuk
melakukan strategi-strategi pemasaran yang tepat agar tidak kalah bersaing dengan
perusahaan lainnya. Karena setiap perusahaan memiliki tujuan untuk memaksimalkan
keuntungan yang lebih besar.
“Strategi” adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan
gagasan, perencanaan dan eksekusi sebuah aktifitas dalam kurung waktu tertentu. Dalam
bisnis strategi biasanya ditujukan guna bagaimana cara bersaingnya.Tekanan persaingan ini
mencakup ancaman pedatang baru, daya tawar menawar pemasok, daya tawar pembeli,
daya tawar produk pengganti dan persaingan antar pesaing.
Dilihat dari segi globalisasi persaingan lebih tajam karena untuk masuk ke dalam pasar
global, banyak faktor-faktor yang harus ditingkatkan dan diperbaiki. Faktor-faktor tersebut
adalah kualitas, ketepatan waktu, dan tentu saja modal. Persaingan global yang dihadapi
perusahaan tersebut memaksa para manajemen perusahaan untuk mengambil keputusan
yang berkualitas berdasarkan fakta-fakta. Tujuan perusahaan walaupun yang satu dengan
yang lainnya belum tentu sama, tetapi pada umumnya tujuan perusahaan terutama adalah
memperoleh laba yang sebesar- besarnya untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan.
Pengertian memaksimalkan laba
“Laba” atau profit dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan
seseorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang
berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk didalamnya, biaya
kesempatan). Keuntungan total merupakan penerimaan total (TR) dikurangi dengan biaya
total (TC), Keuntungan total akan mencapai maksimum apabila selisih positif antara TR
dengan TC mencapai angka terbesar. Secara sistematis laba dapat dirumuskan π=TR-TC,
perusahaan dapat dikatakan memperoleh keuntungan apabila selisihnya bernilai positif
(π>0) dimana TR harus lebih besar dari pada TC (TR-TC) .
Tanpa diperoleh laba, perusahaan tidak dapat memenuhi tujuan lainnya yaitu pertumbuhan
yang terus-menerus ( going concern) dan tanggung jawab sosial (corporate social
responsibility ). Untuk menjamin agar perusahaan mampu menghasilkan laba, maka
manajemen perusahaan harus merencanakan dan mengendalikan 2 faktor penentu laba
yaitu (1) pendapatan (2) biaya. ( Ellys Delfrina Sipangkar,2008)
Sementara itu laba dalam akuntansi sendiri, didefinisikan sebagai selisih antara harga
penjualan dengan biaya produksi. Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian
pemakai karena angka laba diharapkan cukup kaya untuk mempresentasi kinerja
perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi teori akuntansi sampai saat ini belum mencapai
kemantapan dalam pemaknaan dan pengukuran laba. Laba merupakan selisih antara
penerimaan total dan biaya total. Penerimaan total= jumlah yang diterima dari penjualan
produk ( q x P ).
Untuk memaksimalkan laba yang diperoleh setiap perusahaan bisa dicapai melalui
bermacam-macam cara antara lain ialah melalui efisiensi di semua bidang, seperti produksi,
sumber daya manusia, maupun keuangan. Dalam teori ekonomi mikro, tujuan perusahaan
adalah mencari keuntungan secara teoritis laba adalah kompensasi atau resiko yang di
tanggung oleh perusahaan, semakin besar resiko semakin pula laba yang di peroleh.
Untuk bagian laba terdapat dua jenis laba yaitu laba bisnis ( pendapatan penjualan -biaya
exsfilisit dalam menjalankan bisnis), dan laba ekonomi (laba bisnis – biaya modal yang
implisit dan masukan lain yang disediakan pemilik dan pergunakan perusahaan). Eksplisit
cost merupakan biaya yang pengeluarannya ada bukti jelas contoh gaji, listrik,bbm, dan lain-
lain sedangkan implisit cost merupakn biaya yang tak terlihat jelas tetapi tetap harus
diakomodir sebagai biaya.
Laba bisnis (Jj) = Total revenue (TR) – total cost eksplisit (TC eks)
Laba ekonomi = Total revenue ( TR) - Total cost eksplisit ( TCeks) – Total cost implisit (TCimp)
Contoh kasus :
Seorang wanita mengolah tempat makan dan digaji $25.000 setahun memutuskan untuk
membuka rumah makan sendiri ketahui penerimaannya selama setahun pertama operasi
adalah $120.000 sedangkan pengeluarannya meliput : gaji 5 orang karyawan $45000,
bahan-bahan makanan $15.000, sewa $10.000, utilities $1.000, bunga pinjaman bank
$10.000 jadi laba bisnis yang diperoleh adalah $120.000 - $81.000= $39.000 dan laba
ekonomi yang diperoleh $120.000 - $81.000 - $ 25.000=$14.000 sehingga untuk laba bisnis
dan laba ekonomi agar dicapai lebih maksimal maka dia harus mengendalikan biaya
pengeluaran menjadi lebih kecil dan juga biaya gaji karyawan menjadi lebih sedikit dengan
harapan laba yang akan diperoleh menjadi lebih besar Efisiensi dalam biaya produksi
menjadi patokan untuk dapat memaksimalkan laba yang ingin diperoleh.
Biaya produksi merupakan yang paling utama untuk dipikirkan serta diperhitungkan.
Kesalahan perhitungan mampu berakibat fatal bagi kemajuan serta perkembangan
perusahaan. Besarnya harga produksi ini akan membuat sebuah perusahaan bisa mengalami
kebangkrutan akibat ketidakmampuan perusahaan dalam melakukan manajemen
keuangannya.Biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan
baku menjadi barang jadi untuk dijual. Dimana biaya produksi ini terdiri dari biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.Terkadang banyak
perusahaan mengurangi mutu kualitas dari produk yang diproduksi hanya untuk
mendapatkan biaya produksi yang rendah, namun hal tesebut bukan cara yang tepat untuk
membuat biaya produki menjadi lebih rendah, tetapi perusahaan perlu melakukan efisiensi
biaya untuk dapat menekan biaya produksi.
Penetapan biaya produksi yang efisien diartikan sebagai biaya produksi dengan kualitas
yang unggul dengan mengurangi biaya yang banyak mengurangi anggaran dalam
perusahaan.Beberapa anggaran yang biasanya dikurangi untuk efisiensi biaya produksi ini
seperti anggaran pegawai (gaji pegawai per bulannya),biaya listrik, biaya air jika perusahaan
menggunakan sumber air bersih dari PDAM, serta biaya peralatan dalam produksi atau
mesin.Berbagai biaya inilah yang terkadang menyebabkan pembengkakan dalam biaya
produksi. Tentu perusahaan harus tepat dalam menetapkan harga yang harus dikeluarkan
untuk biaya produksi tersebut.
Efisiensi biaya produksi tidak dilakukan dengan mengurangi biaya bahan pembuatan
produknya melainkan mengurangi biaya produksi dari biaya tetap perusahaan per
bulannya.iEfisiensi biaya produksi adalah hubungan perbandingan antara anggaran biaya
produksi (input) dengan realisasi biaya produksi (output ). (Syahu Sugian, 2006:76). Untuk
menilai efisiensi biaya produksi, secara langsung akan meliputi tiga komponen biaya
produksi, yaitu efisiensi biaya bahan baku, efisiensi biaya tenaga kerja langsung, dan
efisiensi biaya overhead pabrik.Untuk mengetahui efisien atau tidaknya biaya produksi
dilakukan dengan cara menghitung selisih antara anggaran dengan realisasinya.Efisiensi
merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk mencapai
laba yang optimal. Konsep efisiensi berkaitan dengan seberapa jauh suatu proses
mengkonsumsi masukan dibandingkan dengan standar atau sesuatu yang bisa dijadikan
pembanding.
Cara efisiensi biaya produksi ini dapat dilakukan melalui metode berikut ini yaitu :
1. Hitunglah harga total minimal bahan yang dibutuhkan untuk melakukan produksi
Bahan produksi merupakan salah satu indikator yang utama untuk bisa melakukan produksi
barang atau jasa yangingin diusahakan oleh perusahaan. Sebelum melakukan penentuan
biaya jual produk atau jasa tersebut anda harus menghitung biaya bahan produksi total
seminimal mungkin.
2. Penerapan Just In Time Just In Time adalah usaha untuk mengurangi waktu penyimpanan
(stourage time) yang merupakan suatu akibat dari aktivitas bukan penambah nilai bagi
konsumen (nonvalue added activities) (mulyadi, 1993:25-26). Dimana penerapan Just In
Time dapat menghemat biaya penyimpan sehingga dapat membuat biaya lebih efisien.
3. Rancangkan biaya perawatan mesin serta biaya karyawan seminimal mungkin
Inilah yang harus diperhitungkan saat menentukan biaya produksi. Jumlahkan semua biaya
perawatan mesin serta gaji karyawan yang dibutuhkan seminimal mungkin. Hal ini
diupayakan untuk menghitung standar biaya produksi.
Efisiensi biaya produksi merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan oleh
perusahaan untuk mencapai laba yang optimal. Perusahaan harus tepat dalam menetapkan
harga yang harus dikeluarkan untuk biaya produksi supaya efisiensi biaya produksi dapat
secara konsisten dapat diterapkan perusahaan.
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk
mengolah produk. Biaya tanaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan
tenaga kerja manusia tersebut.
Penggolongan kegiatan dan biaya tenaga kerja
A.Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi kedalam 3 fungsi pokok
produksi,pemasaran,dan administrasi. Contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap
golongan tersebut.
-Biaya tenaga kerja produksi : gaji karyawan,biaya kesejahteraan karyawan pabrik,upah
lembur karyawan pabrik,upah mandor pabrik,gaji manajer pabrik.
-Biaya tenaga kerja pemasaran : upah karyawan pemasaran,biaya kesejahteraan karyawan
pemasaran,biaya komisi pramuniaga,gaji manajer pemasaran.
-Biaya tenaga kerja administrasi dan umum : gaji karyawan bagian akuntansi, bagian
personalia , bagian secretariat, biaya kesejahteraan karyawan bagian akuntansi, biaya
kesejahteraan karyawan bagian personalia, biaya kesejahteraan karyawan bagian
secretariat.
B. Penggolongan menurut kegiatan departemen - departemen dalam perusahaan
Biaya tenaga kerja digolongkan sesuai dengan bagian - bagian yang dibentuk dalam
perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja didepartemen - departemen non produksi
diglolongkan pula menurut departemen tempat kerja mereka. Penggolongan semacam ini
dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi
dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan. Misalnya : departemen produksi
suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen yaitu bagian pulp, bagian kertas dan
bagian penyempurnaan. Bagian nonproduksi : tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga
kerja bagian personalia, dll.
C. Penggolongan menurut jenis pekerjaan
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut jenis sifat pekerjaannya
. Biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah
standar kerja. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolongkan menjadi : upah mandor,
upah penyelia, upah operator.
D. Penggolongan menurut hubungan dengan produk
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan
tenaga kerja tidak langsung.
Untuk mencapai target kinerja keuangan diatas beberapa strategi yang bisa ditempuh
antara lain:
1. Melakukan penyusunan dan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran atau Budgeting
perusahaan.
2. Penerapan standar operating prosedur keuangan dan operasional, melalui pengawasan
dan penerapan manajemen perusahaan yang handal.
3. Efisiensi penggunaan modal kerja dengan melakukan seluruh kegiatan transaksi penjualan
dengan cara tunai.
4. Manajemen persediaan bahan baku produksi yang efektif
5. Metode pembayaran ke supplier dengan menggunakan sistem kredit (account payable ),
dan diupayakan dana pembayarannya bersumber dari hasil penjualan.
6. Pengelolaan manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam perusahaan yang efisien.
7. Secara berkala dalam satu periode melakukan analisis laporan keuangan perusahaan,
sebagai alat barometer terhadap pencapaian nilai rasio efisiensi kinerja laporan keuangan
perusahaan.
Semakin tinggi perputaran modal kerja yang diinvestasikan dalam perusahaan maka akan
semakin baik kinerja keuangan dan membutuhkan modal yang minim untuk mencapai
target prosentase laba yang besar
Memaksimumkan laba menjadi prioritas penting dalam menjalankan suatu perusahaan.
Terdapat tiga pendekatan perhitungan laba maksimum yaitu :
- Pendekatan Totalitas (totality approach)
Pendekatan totalitas membandingkan pendapatan total (TR) dan biaya total (TC). Jika harga
jual per unit output (P) dan jumlah unit output yang terjual (Q), maka TR = P.Q. Biaya total
adalah jumlah biaya tetap (FC) ditambah biaya variable per unit(v) dikali biaya variable per
unit, sehingga:
π = P.Q – (FC + v.Q)
Implikasi dari pendekatan totalitas adalah perusahaan menempuh strategi penjualan
maksimum (maximum selling). Sebab semakin besar penjualan makin besar laba yang
diperoleh. Hanya saja sebelum mengambil keputusan, perusahaan harus menghitung
berapa unit output yang harus diproduksi untuk mencapai titik impas. Kemudian besarnya
output tadi dibandingkan dengan potensi permintaan efektif.
- Pendekatan Rata-rata (average approach)
Dalam pendekatan ini perhitungan laba per unit dilakukan dengan membandingkan antara
biaya produksi rata-rata (AC) dengan harga jual output (P) kemudian laba total dihitung dari
laba per unit dikali dengan jumlah output yang terjual.
π = (P - AC).Q
Dari persamaan ini, perusahaan akan mencapai laba bila harga jual per unit output (P) lebih
tinggi dari biaya rata-rata (AC). Perusahaan akan mencapai angka impas bila P sama dengan
AC.
Keputusan untuk memproduksi atau tidak didasarkan perbandingan besarnya P dengan AC.
Bila P lebih kecil atau sama dengan AC, perusahaan tidak mau memproduksi. Implikasi
pendekatan rata-rata adalah perusahaan atau unit usaha harus menjual sebanyak-
banyaknya (maximum selling) agar laba (π) makin besar.
- Pendekatan Marginal (marginal approach)
Perhitungan laba dilakukan dengan membandingkan biaya marginal (MC) dan pendapatan
marginal (MR). Laba maksimum akan tercapai pada saat MR = MC.
π = TR – TC
Laba maksimum tercapai bila turunan pertama fungsi π(δ π /δQ) sama dengan nol dan
nilainya sama dengan nilai turunan pertama TR (δTR/ δQ atau MR) dikurangi nilai turunan
pertama TC (δTC/ δQ atau MC). Sehingga MR – MC = 0. Dengan demikian, perusahaan akan
memperoleh laba maksimum (atau kerugian minimum) bila ia berproduksi pada tingkat
output di mana MR = MC.
Biaya produksi dapat meliputi unsur – unsur sebagai berikut :
1. bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi
2. bahan-bahan pembantu atau penolong
3. upah tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur.
4. penyusutan peralatan produksi
5. uang modal, sewa
6. biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik,
biaya keamanan dan asuransi
7. biaya pemasaran seperti biaya iklan
8. pajak
Jenis-jenis Biaya Produksi
Biaya produksi membentuk harga pokok produksi yang digunakan untuk menghitung harga
pokok produk jadi dan harga pokok produk pada akhir periode akuntansi masih dalam
proses. Biaya produksi digolongkan dalam tiga jenis yang juga merupakan elemen-elemen
utama dari biaya produksi, meliputi :
1. Biaya bahan baku (direct material Cost)
Merupakan bahan secara langsung digunakan dalam produksi untuk mewujudkan suatu
macam produk jadi yang siap untuk dipasarkan.
2. Biaya tenaga kerja langsung (direct labour cost)
Merupakan biaya-biaya bagi para tenaga kerja langsung ditempatkan dan didayagunakan
dalam menangani kegiatan-kegiatan proses produk jadi secara langsung diterjunkan dalam
kegiatan produksi menangani segala peralatan produksi dan usaha itu dapat terwujud.
3. Biaya overhead pabrik (factory overhead cost)
Umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung dan biaya
pabrik lainnya yang tidak secara mudah didefinisikan atau dibebankan pada suatu
pekerjaan.
Elemen-elemen dari biaya Overhead Pabrik yaitu :
1. Biaya bahan penolong
2. Biaya tenaga kerja tidak langsung
3. Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap
4. Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin
5. Biaya listrik dan air pabrik
6. Biaya asuransi pabrik
7. Operasi lain-lain
Proses Produksi
Pengumpulan harga produksi sangat ditentukan berdasarkan proses produksinya. Proses
produksi dibagi menjadi 2 macam:
1. Produksi atas dasar pesanan
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan melaksanakan pengolahan produknya
atas dasar pesanan yang diterima dari pihak luar. Perusahaan ini mengumpulkan biaya
produksi dengan menggunakan harga pokok pesanan (Job order cost methode)
2. Produksi masa
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan produksi massa melaksanakan pengolahan
produknya untuk memenuhi persediaan di gudang yang umumnya produknya berupa
standar.
Perusahaan ini mengumpulkan biaya produksinya dengan menggunakan metode harga
pokok proses (Process cost methode). Dalam metode, biaya-biaya produksi dikumpulkan
untuk periode tertentu dan harga pokok produk persatuan produk yang dihasilkan dalam
periode tersebut, dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dengan jumlah satuan
produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.
Sejak awal akan dirancangnya perusahaan, sebaiknya dilakukan pula perencanaan tenaga
kerjanya. Baik itu tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja tidak langsungnya. Hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadinya kesia-siaan tenaga kerja, sehingga jumlah tenaga kerja
yang pada perusahaan dapat dikatakan optimum, dan pada akhirnya akan menurunkan
biaya tenaga kerja perusahaan tersebut.STRATEGI MEMAKSIMALKAN LABA PERUSAHAAN
MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dikerjakannya makalah ini adalah memberikan pemahaman pembaca mengenai
cara memaksimalkan laba dengan lebih tepat dan efisien. Laba yang dihasilkan tidak
terlepas dari beberapa factor antara lain jumlah hasil produksinya, modal, dan total upah
tenaga kerja.
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara meminimumkan
biaya dan meningkatkan efisiensi dalam pengaturan segala fasilitas produksi dan area kerja,
sehingga proses produksi dapat berjalan lancar.
Efisiensi ini dapat dicapai dengan menekan biaya produksi dan transportasi didalam pabrik.
Efisiensi di bidang keuangan memberikan pengaruh pada operasi perusahaan, sehingga
akan meningkatkan efisiensi operasional dan efisiensi investasi yang pada akhirnya akan
dapat meningkatkan laba perusahaan. Dengan menghasilkan laba, perusahaan dapat
mempertahankan p
ertumbuhanertumbuhan perusahaannya sehingga dapat bersaing dengan perusahaan lain
kerena laba tersebut dapat ditanam kembali dan digunakan untuk mempertahankan atau
meningkatkan pertumbuhannya.
Untuk meningkatkan laba, perusahaan umumnya meningkatkan pendapatan dan
mengurangai biaya, antara lain biaya produksi. Dengan mengurangi biaya, perusahaan
adapat memaksimalkan dana untuk tujuan lain seperti membuat produk baru, atau
menginvestasikannya untuk menambah aset perusahaan.
DimasaDimasaiDimasaDimasai,perusahaan memiliki masing-masing peluang untuk
memasarkan produknya , Perusahaan merupakan salah satu sarana yang dapat menunjang
program pemerintah di berbagai sektor perekonomian. Seiring dengan perkembangan dunia
usaha yang semakin pesat ini akan membawa dampak persaingan perdagangan yang ketat,
terutama pada perusahaan sejenis. Dengan demikian perusahaan dituntut bekerja lebih
efisien supaya dapat tetap bertahan dalam bidangnya masing-masing.
(Agus Suseno,2009).Perusahaan harus selalu dapat menghasilkan laba untuk dapat tetap
bersaing dan menguasai pasar. Untuk itu , setiap perusahaan atau pengusaha dituntut untuk
melakukan strategi-strategi pemasaran yang tepat agar tidak kalah bersaing dengan
perusahaan lainnya. Karena setiap perusahaan memiliki tujuan untuk memaksimalkan
keuntungan yang lebih besar.
“Strategi” adalah pendekatan secara keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan
gagasan, perencanaan dan eksekusi sebuah aktifitas dalam kurung waktu tertentu. Dalam
bisnis strategi biasanya ditujukan guna bagaimana cara bersaingnya.Tekanan persaingan ini
mencakup ancaman pedatang baru, daya tawar menawar pemasok, daya tawar pembeli,
daya tawar produk pengganti dan persaingan antar pesaing.
Dilihat dari segi globalisasi persaingan lebih tajam karena untuk masuk ke dalam pasar
global, banyak faktor-faktor yang harus ditingkatkan dan diperbaiki. Faktor-faktor tersebut
adalah kualitas, ketepatan waktu, dan tentu saja modal. Persaingan global yang dihadapi
perusahaan tersebut memaksa para manajemen perusahaan untuk mengambil keputusan
yang berkualitas berdasarkan fakta-fakta. Tujuan perusahaan walaupun yang satu dengan
yang lainnya belum tentu sama, tetapi pada umumnya tujuan perusahaan terutama adalah
memperoleh laba yang sebesar- besarnya untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan.
Pengertian memaksimalkan laba
“Laba” atau profit dalam ilmu ekonomi murni didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan
seseorang investor sebagai hasil penanam modalnya, setelah dikurangi biaya-biaya yang
berhubungan dengan penanaman modal tersebut (termasuk didalamnya, biaya
kesempatan). Keuntungan total merupakan penerimaan total (TR) dikurangi dengan biaya
total (TC), Keuntungan total akan mencapai maksimum apabila selisih positif antara TR
dengan TC mencapai angka terbesar. Secara sistematis laba dapat dirumuskan π=TR-TC,
perusahaan dapat dikatakan memperoleh keuntungan apabila selisihnya bernilai positif
(π>0) dimana TR harus lebih besar dari pada TC (TR-TC) .
Tanpa diperoleh laba, perusahaan tidak dapat memenuhi tujuan lainnya yaitu pertumbuhan
yang terus-menerus ( going concern) dan tanggung jawab sosial (corporate social
responsibility ). Untuk menjamin agar perusahaan mampu menghasilkan laba, maka
manajemen perusahaan harus merencanakan dan mengendalikan 2 faktor penentu laba
yaitu (1) pendapatan (2) biaya. ( Ellys Delfrina Sipangkar,2008)
Sementara itu laba dalam akuntansi sendiri, didefinisikan sebagai selisih antara harga
penjualan dengan biaya produksi. Laba merupakan elemen yang paling menjadi perhatian
pemakai karena angka laba diharapkan cukup kaya untuk mempresentasi kinerja
perusahaan secara keseluruhan. Akan tetapi teori akuntansi sampai saat ini belum mencapai
kemantapan dalam pemaknaan dan pengukuran laba. Laba merupakan selisih antara
penerimaan total dan biaya total. Penerimaan total= jumlah yang diterima dari penjualan
produk ( q x P ).
Untuk memaksimalkan laba yang diperoleh setiap perusahaan bisa dicapai melalui
bermacam-macam cara antara lain ialah melalui efisiensi di semua bidang, seperti produksi,
sumber daya manusia, maupun keuangan. Dalam teori ekonomi mikro, tujuan perusahaan
adalah mencari keuntungan secara teoritis laba adalah kompensasi atau resiko yang di
tanggung oleh perusahaan, semakin besar resiko semakin pula laba yang di peroleh.
Untuk bagian laba terdapat dua jenis laba yaitu laba bisnis ( pendapatan penjualan -biaya
exsfilisit dalam menjalankan bisnis), dan laba ekonomi (laba bisnis – biaya modal yang
implisit dan masukan lain yang disediakan pemilik dan pergunakan perusahaan). Eksplisit
cost merupakan biaya yang pengeluarannya ada bukti jelas contoh gaji, listrik,bbm, dan lain-
lain sedangkan implisit cost merupakn biaya yang tak terlihat jelas tetapi tetap harus
diakomodir sebagai biaya.
Laba bisnis (Jj) = Total revenue (TR) – total cost eksplisit (TC eks)
Laba ekonomi = Total revenue ( TR) - Total cost eksplisit ( TCeks) – Total cost implisit (TCimp)
Contoh kasus :
Seorang wanita mengolah tempat makan dan digaji $25.000 setahun memutuskan untuk
membuka rumah makan sendiri ketahui penerimaannya selama setahun pertama operasi
adalah $120.000 sedangkan pengeluarannya meliput : gaji 5 orang karyawan $45000,
bahan-bahan makanan $15.000, sewa $10.000, utilities $1.000, bunga pinjaman bank
$10.000 jadi laba bisnis yang diperoleh adalah $120.000 - $81.000= $39.000 dan laba
ekonomi yang diperoleh $120.000 - $81.000 - $ 25.000=$14.000 sehingga untuk laba bisnis
dan laba ekonomi agar dicapai lebih maksimal maka dia harus mengendalikan biaya
pengeluaran menjadi lebih kecil dan juga biaya gaji karyawan menjadi lebih sedikit dengan
harapan laba yang akan diperoleh menjadi lebih besar Efisiensi dalam biaya produksi
menjadi patokan untuk dapat memaksimalkan laba yang ingin diperoleh.
Biaya produksi merupakan yang paling utama untuk dipikirkan serta diperhitungkan.
Kesalahan perhitungan mampu berakibat fatal bagi kemajuan serta perkembangan
perusahaan. Besarnya harga produksi ini akan membuat sebuah perusahaan bisa mengalami
kebangkrutan akibat ketidakmampuan perusahaan dalam melakukan manajemen
keuangannya.Biaya produksi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan
baku menjadi barang jadi untuk dijual. Dimana biaya produksi ini terdiri dari biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.Terkadang banyak
perusahaan mengurangi mutu kualitas dari produk yang diproduksi hanya untuk
mendapatkan biaya produksi yang rendah, namun hal tesebut bukan cara yang tepat untuk
membuat biaya produki menjadi lebih rendah, tetapi perusahaan perlu melakukan efisiensi
biaya untuk dapat menekan biaya produksi.
Penetapan biaya produksi yang efisien diartikan sebagai biaya produksi dengan kualitas
yang unggul dengan mengurangi biaya yang banyak mengurangi anggaran dalam
perusahaan.Beberapa anggaran yang biasanya dikurangi untuk efisiensi biaya produksi ini
seperti anggaran pegawai (gaji pegawai per bulannya),biaya listrik, biaya air jika perusahaan
menggunakan sumber air bersih dari PDAM, serta biaya peralatan dalam produksi atau
mesin.Berbagai biaya inilah yang terkadang menyebabkan pembengkakan dalam biaya
produksi. Tentu perusahaan harus tepat dalam menetapkan harga yang harus dikeluarkan
untuk biaya produksi tersebut.
Efisiensi biaya produksi tidak dilakukan dengan mengurangi biaya bahan pembuatan
produknya melainkan mengurangi biaya produksi dari biaya tetap perusahaan per
bulannya.iEfisiensi biaya produksi adalah hubungan perbandingan antara anggaran biaya
produksi (input) dengan realisasi biaya produksi (output ). (Syahu Sugian, 2006:76). Untuk
menilai efisiensi biaya produksi, secara langsung akan meliputi tiga komponen biaya
produksi, yaitu efisiensi biaya bahan baku, efisiensi biaya tenaga kerja langsung, dan
efisiensi biaya overhead pabrik.Untuk mengetahui efisien atau tidaknya biaya produksi
dilakukan dengan cara menghitung selisih antara anggaran dengan realisasinya.Efisiensi
merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk mencapai
laba yang optimal. Konsep efisiensi berkaitan dengan seberapa jauh suatu proses
mengkonsumsi masukan dibandingkan dengan standar atau sesuatu yang bisa dijadikan
pembanding.
Cara efisiensi biaya produksi ini dapat dilakukan melalui metode berikut ini yaitu :
1. Hitunglah harga total minimal bahan yang dibutuhkan untuk melakukan produksi
Bahan produksi merupakan salah satu indikator yang utama untuk bisa melakukan produksi
barang atau jasa yangingin diusahakan oleh perusahaan. Sebelum melakukan penentuan
biaya jual produk atau jasa tersebut anda harus menghitung biaya bahan produksi total
seminimal mungkin.
2. Penerapan Just In Time Just In Time adalah usaha untuk mengurangi waktu penyimpanan
(stourage time) yang merupakan suatu akibat dari aktivitas bukan penambah nilai bagi
konsumen (nonvalue added activities) (mulyadi, 1993:25-26). Dimana penerapan Just In
Time dapat menghemat biaya penyimpan sehingga dapat membuat biaya lebih efisien.
3. Rancangkan biaya perawatan mesin serta biaya karyawan seminimal mungkin
Inilah yang harus diperhitungkan saat menentukan biaya produksi. Jumlahkan semua biaya
perawatan mesin serta gaji karyawan yang dibutuhkan seminimal mungkin. Hal ini
diupayakan untuk menghitung standar biaya produksi.
Efisiensi biaya produksi merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan oleh
perusahaan untuk mencapai laba yang optimal. Perusahaan harus tepat dalam menetapkan
harga yang harus dikeluarkan untuk biaya produksi supaya efisiensi biaya produksi dapat
secara konsisten dapat diterapkan perusahaan.
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk
mengolah produk. Biaya tanaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan
tenaga kerja manusia tersebut.
Penggolongan kegiatan dan biaya tenaga kerja
A.Penggolongan menurut fungsi pokok dalam organisasi perusahaan
Organisasi dalam perusahaan manufaktur dibagi kedalam 3 fungsi pokok
produksi,pemasaran,dan administrasi. Contoh biaya tenaga kerja yang termasuk dalam tiap
golongan tersebut.
-Biaya tenaga kerja produksi : gaji karyawan,biaya kesejahteraan karyawan pabrik,upah
lembur karyawan pabrik,upah mandor pabrik,gaji manajer pabrik.
-Biaya tenaga kerja pemasaran : upah karyawan pemasaran,biaya kesejahteraan karyawan
pemasaran,biaya komisi pramuniaga,gaji manajer pemasaran.
-Biaya tenaga kerja administrasi dan umum : gaji karyawan bagian akuntansi, bagian
personalia , bagian secretariat, biaya kesejahteraan karyawan bagian akuntansi, biaya
kesejahteraan karyawan bagian personalia, biaya kesejahteraan karyawan bagian
secretariat.
B. Penggolongan menurut kegiatan departemen - departemen dalam perusahaan
Biaya tenaga kerja digolongkan sesuai dengan bagian - bagian yang dibentuk dalam
perusahaan tersebut. Tenaga kerja yang bekerja didepartemen - departemen non produksi
diglolongkan pula menurut departemen tempat kerja mereka. Penggolongan semacam ini
dilakukan untuk lebih memudahkan pengendalian terhadap biaya tenaga kerja yang terjadi
dalam tiap departemen yang dibentuk dalam perusahaan. Misalnya : departemen produksi
suatu perusahaan kertas terdiri dari 3 departemen yaitu bagian pulp, bagian kertas dan
bagian penyempurnaan. Bagian nonproduksi : tenaga kerja bagian akuntansi, biaya tenaga
kerja bagian personalia, dll.
C. Penggolongan menurut jenis pekerjaan
Dalam suatu departemen, tenaga kerja dapat digolongkan menurut jenis sifat pekerjaannya
. Biaya tenaga kerja semacam ini digunakan sebagai dasar penetapan deferensiasi upah
standar kerja. Dengan demikian biaya tenaga kerja digolongkan menjadi : upah mandor,
upah penyelia, upah operator.
D. Penggolongan menurut hubungan dengan produk
Dalam hubungannya dengan produk, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan
tenaga kerja tidak langsung.
Untuk mencapai target kinerja keuangan diatas beberapa strategi yang bisa ditempuh
antara lain:
1. Melakukan penyusunan dan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran atau Budgeting
perusahaan.
2. Penerapan standar operating prosedur keuangan dan operasional, melalui pengawasan
dan penerapan manajemen perusahaan yang handal.
3. Efisiensi penggunaan modal kerja dengan melakukan seluruh kegiatan transaksi penjualan
dengan cara tunai.
4. Manajemen persediaan bahan baku produksi yang efektif
5. Metode pembayaran ke supplier dengan menggunakan sistem kredit (account payable ),
dan diupayakan dana pembayarannya bersumber dari hasil penjualan.
6. Pengelolaan manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam perusahaan yang efisien.
7. Secara berkala dalam satu periode melakukan analisis laporan keuangan perusahaan,
sebagai alat barometer terhadap pencapaian nilai rasio efisiensi kinerja laporan keuangan
perusahaan.
Semakin tinggi perputaran modal kerja yang diinvestasikan dalam perusahaan maka akan
semakin baik kinerja keuangan dan membutuhkan modal yang minim untuk mencapai
target prosentase laba yang besar
Memaksimumkan laba menjadi prioritas penting dalam menjalankan suatu perusahaan.
Terdapat tiga pendekatan perhitungan laba maksimum yaitu :
- Pendekatan Totalitas (totality approach)
Pendekatan totalitas membandingkan pendapatan total (TR) dan biaya total (TC). Jika harga
jual per unit output (P) dan jumlah unit output yang terjual (Q), maka TR = P.Q. Biaya total
adalah jumlah biaya tetap (FC) ditambah biaya variable per unit(v) dikali biaya variable per
unit, sehingga:
π = P.Q – (FC + v.Q)
Implikasi dari pendekatan totalitas adalah perusahaan menempuh strategi penjualan
maksimum (maximum selling). Sebab semakin besar penjualan makin besar laba yang
diperoleh. Hanya saja sebelum mengambil keputusan, perusahaan harus menghitung
berapa unit output yang harus diproduksi untuk mencapai titik impas. Kemudian besarnya
output tadi dibandingkan dengan potensi permintaan efektif.
- Pendekatan Rata-rata (average approach)
Dalam pendekatan ini perhitungan laba per unit dilakukan dengan membandingkan antara
biaya produksi rata-rata (AC) dengan harga jual output (P) kemudian laba total dihitung dari
laba per unit dikali dengan jumlah output yang terjual.
π = (P - AC).Q
Dari persamaan ini, perusahaan akan mencapai laba bila harga jual per unit output (P) lebih
tinggi dari biaya rata-rata (AC). Perusahaan akan mencapai angka impas bila P sama dengan
AC.
Keputusan untuk memproduksi atau tidak didasarkan perbandingan besarnya P dengan AC.
Bila P lebih kecil atau sama dengan AC, perusahaan tidak mau memproduksi. Implikasi
pendekatan rata-rata adalah perusahaan atau unit usaha harus menjual sebanyak-
banyaknya (maximum selling) agar laba (π) makin besar.
- Pendekatan Marginal (marginal approach)
Perhitungan laba dilakukan dengan membandingkan biaya marginal (MC) dan pendapatan
marginal (MR). Laba maksimum akan tercapai pada saat MR = MC.
π = TR – TC
Laba maksimum tercapai bila turunan pertama fungsi π(δ π /δQ) sama dengan nol dan
nilainya sama dengan nilai turunan pertama TR (δTR/ δQ atau MR) dikurangi nilai turunan
pertama TC (δTC/ δQ atau MC). Sehingga MR – MC = 0. Dengan demikian, perusahaan akan
memperoleh laba maksimum (atau kerugian minimum) bila ia berproduksi pada tingkat
output di mana MR = MC.
Biaya produksi dapat meliputi unsur – unsur sebagai berikut :
1. bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi
2. bahan-bahan pembantu atau penolong
3. upah tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur.
4. penyusutan peralatan produksi
5. uang modal, sewa
6. biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik,
biaya keamanan dan asuransi
7. biaya pemasaran seperti biaya iklan
8. pajak
Jenis-jenis Biaya Produksi
Biaya produksi membentuk harga pokok produksi yang digunakan untuk menghitung harga
pokok produk jadi dan harga pokok produk pada akhir periode akuntansi masih dalam
proses. Biaya produksi digolongkan dalam tiga jenis yang juga merupakan elemen-elemen
utama dari biaya produksi, meliputi :
1. Biaya bahan baku (direct material Cost)
Merupakan bahan secara langsung digunakan dalam produksi untuk mewujudkan suatu
macam produk jadi yang siap untuk dipasarkan.
2. Biaya tenaga kerja langsung (direct labour cost)
Merupakan biaya-biaya bagi para tenaga kerja langsung ditempatkan dan didayagunakan
dalam menangani kegiatan-kegiatan proses produk jadi secara langsung diterjunkan dalam
kegiatan produksi menangani segala peralatan produksi dan usaha itu dapat terwujud.
3. Biaya overhead pabrik (factory overhead cost)
Umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung dan biaya
pabrik lainnya yang tidak secara mudah didefinisikan atau dibebankan pada suatu
pekerjaan.
Elemen-elemen dari biaya Overhead Pabrik yaitu :
1. Biaya bahan penolong
2. Biaya tenaga kerja tidak langsung
3. Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap
4. Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin
5. Biaya listrik dan air pabrik
6. Biaya asuransi pabrik
7. Operasi lain-lain
Proses Produksi
Pengumpulan harga produksi sangat ditentukan berdasarkan proses produksinya. Proses
produksi dibagi menjadi 2 macam:
1. Produksi atas dasar pesanan
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan melaksanakan pengolahan produknya
atas dasar pesanan yang diterima dari pihak luar. Perusahaan ini mengumpulkan biaya
produksi dengan menggunakan harga pokok pesanan (Job order cost methode)
2. Produksi masa
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan produksi massa melaksanakan pengolahan
produknya untuk memenuhi persediaan di gudang yang umumnya produknya berupa
standar.
Perusahaan ini mengumpulkan biaya produksinya dengan menggunakan metode harga
pokok proses (Process cost methode). Dalam metode, biaya-biaya produksi dikumpulkan
untuk periode tertentu dan harga pokok produk persatuan produk yang dihasilkan dalam
periode tersebut, dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dengan jumlah satuan
produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.
Sejak awal akan dirancangnya perusahaan, sebaiknya dilakukan pula perencanaan tenaga
kerjanya. Baik itu tenaga kerja langsung maupun tenaga kerja tidak langsungnya. Hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadinya kesia-siaan tenaga kerja, sehingga jumlah tenaga kerja
yang pada perusahaan dapat dikatakan optimum, dan pada akhirnya akan menurunkan

Komentar
Posting Komentar